Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

Perempuan Obesitas Lebih Rentan Alami Pembekuan Darah

Senin, 09 April 2012 | 13:12 WIB

TEMPO.CO, New York - Perempuan usia baya dengan kelebihan berat badan memiliki risiko tinggi mengalami pembekuan darah, khususnya yang baru saja menjalani operasi. Penelitian yang diikuti lebih dari satu juta perempuan di Inggris menyebutkan ada hubungan antara obesitas dan risiko Venous Thromboembolism (VTE) atau yang dikenal dengan pembekuan darah di dalam pembuluh vena.

Jika pembekuan darah itu pecah dan masuk ke paru-paru maka akan menyebabkan kondisi yang disebut Emboli Paru atau penyumbatan arteri utama dari paru-paru atau salah satu cabang, dengan zat yang berasal dari tempat lain dalam tubuh. Jika kondisi ini terjadi, dapat berakibat fatal dan harus menjalani operasi.

"Tapi, sejauh yang kita tahu, penelitian kami adalah yang pertama untuk langsung menguji hubungan antara kelebihan berat badan atau obesitas dan kemungkinan memiliki operasi," kata pemimpin penelitian, Lianne Parkin, dari University of Otago di Selandia Baru.

Para peneliti menemukan bahwa dari 1.000 perempuan dengan berat badan normal yang menjalani operasi rawat inap selama enam tahun, sekitar lima orang harus menjalani operasi karena mengalami pembekuan dalam vena atau emboli paru dalam waktu 12 minggu dari operasi.

Sementara pada perempuan yang mengalami berat badan atau obesitas, jumlah yang menjalani operasi dalam emboli paru lebih banyak, yaitu tujuh orang. Secara keseluruhan, Parkin mengatakan risiko pembekuan naik secara bersamaan dengan berat badan perempuan.

"Itu menunjukkan bahwa hilangnya sejumlah kecil berat badan akan berpengaruh baik dalam hal mengurangi risiko VTE, terutama bagi perempuan yang kelebihan berat badan atau obesitas," kata Parkin.

Pembekuan darah hampir selalu didiagnosis karena gejala, seperti nyeri di betis, bengkak pada pergelangan kaki, serta merasa panas pada satu area yang terinfeksi. Menurut Parkin, pengobatan yang dapat dilakukan dengan memberikan antibeku untuk mencegah pembekuan yang telah ada maupun yang baru.

Mengenakan stocking kompresi di sekitar kaki bagian bawah juga dapat membantu mencegah pembekuan baru. Menurut Parkin, cara terbaik bagi seorang perempuan obese dalam mengurangi risiko VTE adalah menurunkan berat badan. "Banyak manfaat kesehatan lainnya yang penting dengan mengurangi berat badan," ujar Parkin.

REUTERS | CHETA NILAWATY



View the original article here



Peliculas Online

Rabu, 25 April 2012

Mengapa Para Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok

Sabtu, 07 April 2012 | 09:50 WIB

TEMPO.CO, Jakarta- Para wanita cenderung lebih sulit berhenti merokok ketimbang pria. Menurut para ilmuwan, hal tersebut karena otak wanita bereaksi berbeda terhadap nikotin.

Ketika seseorang merokok, jumlah reseptor nikotin di otak--yang mengikat nikotin dan meningkatkan kebiasaan merokok--diperkirakan meningkat jumlahnya. Hasil studi pada pria mengungkapkan, dan ini benar, pria perokok mempunyai reseptor nikotin yang lebih banyak ketimbang pria yang tidak merokok. Sebaliknya wanita perokok mempunyai reseptor nikotin yang hampir sama dengan wanita non-perokok.

“Ketika melihatnya sesuai dengan gender, Anda akan melihat sebuah perbedaan besar,” kata peneliti riset, Kelly Cosgrove, asisten profesor bidang psikiatri di Yale University School of Medicine, seperti dikutip Live Science.

Temuan-temuan ini penting karena pengobatan utama bagi mereka yang ingin berhenti merokok adalah terapi pengalihan nikotin, seperti permen karet nikotin. Menurut Cosgrove, hasil studi menunjukkan, bagi wanita perokok manfaatnya akan lebih baik jika menggunakan pengobatan yang tidak melibatkan nikotin, di antaranya terapi perilaku seperti teknik olahraga atau relaksasi, dan obat-obatan yang tidak mengandung nikotin.

Elemen-elemen merokok yang tidak berkaitan dengan nikotin seperti bau dan berpura-pura memegang sebatang rokok kemungkinan berpengaruh besar dalam meningkatkan kebiasaan wanita perokok dibandingkan pada pria, sambung Cosgrove seperti dikutip situs LiveScience edisi 3 April 2012.

Dalam penelitian ini, Cosgrove dan rekan-rekannya memindai otak 52 pria dan 58 wanita, sebagian dari mereka adalah perokok. Para peneliti mengamati reseptor nikotin di otak menggunakan penanda radioaktif yang mengikat secara khusus kelompok reseptor yang tugas utamanya adalah mempertahankan diri dari nikotin.

Para perokok dalam studi ini, kata Cosgrove, berhenti merokok selama seminggu, sehingga reseptor nikotin mereka bisa diikat dengan penanda tersebut untuk difoto. Para ilmuwan menemukan bahwa pria perokok mempunyai 16 persen lebih banyak reseptor nikotin di area otak yang disebut striatum, 17 persen lebih tinggi di cerebellum, dan 13-17 persen lebih banyak di are cortical atau di luar lapisan otak dibandingkan pria yang tidak merokok. Pada wanita perokok, sebaliknya, jumlah reseptor nikotin hampir sama dengan wanita non-perokok di semua bagian otak tersebut.

Dr. Len Horovits, spesialis paru-paru di Lenox Hill Hospital di New York, sepakat agar perhatian diberikan lebih kepada pengobatan non-nikotin. “Anda bisa mengganti semua nikotin yang Anda inginkan, dan orang kemungkinan tetap ingin merokok,” ujar dia. Contohnya, merokok adalah pelepas stres bagi sebagian orang.

Alasan terjadinya perbedaan terkait dengan jenis kelamin pada penelitian ini tidak diketahui. Namun kemungkinan hal itu berkaitan dengan kadar progesteron. Tingkat hormon yang berfluktuasi pada wanita tergantung dari siklus menstruasi dan lebih tinggi setelah ovulasi. Studi ini menemukan level progesteron terkait dengan lebih rendahnya jumlah reseptor nikotin yang ada, ungkap para peneliti. Kemungkinan progesteron secara tidak langsung menghalangi reseptor-reseptor tersebut.

Di Indonesia, Komisi Nasional Perlindungan Anak menggunakan dua metode pendekatan terapi untuk menghilangkan kecanduan rokok anak-anak. Cara pertama adalah terapi medis dan cara kedua adalah psikososial. Caranya dengan mengajak anak-anak tersebut bermain dan menghilangkan stres anak. Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mereka mengajak anak-anak bermain dan menghilangkan stres anak. "Anak-anak itu juga menjalani terapi totok agar dapat mengembalikan perilaku sosial mereka," katanya.

ARBA’IYAH SATRIANI | RAFIKA AULIA



View the original article here



Peliculas Online