Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Stres Kronis Sebabkan Alzheimer

Selasa, 10 April 2012 | 16:04 WIB

TEMPO.CO - Kepandaian mengelola stres amat dibutuhkan untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Bila tidak, stres akan berubah menjadi kronis dan menyebabkan penyakit Alzheimer.

Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan dari San Diego of School of Medicine tentang stres menunjukan bahwa stres kronis menyebabkan produksi dan akumulasi protein tau pada sel-sel otak tikus. Protein tau adalah protein yang banyak terdapat di neuron atau di dalam sistem saraf pusat. 

Kumpulan protein tau pada sel-sel otak tikus yang diobservasi selama penelitian sama dengan protein tau yang juga ditemukan pada penyakit Alzheimer pada manusia. Hasil penelitian ini dipublikasikan secara online pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Stres adalah respons alami terhadap situasi sulit yang dirasakan seseorang. Stres juga dikaitkan dengan kondisi psikiatrik, seperti kecemasan dan depresi. Pada kasus-kasus tertentu, tidak semua jenis stres membahayakan. "Stres akut yang bisa terjadi kapan saja terbukti bermanfaat membantu meningkatkan plastisitas otak dan mengembangkan proses belajar.

Stres kronik membahayakan. Ini karena stres kronis membawa perubahan patologis dalam tubuh yang diketahui memiliki sejumlah implikasi kesehatan. Temuan-temuan dari penelitian terkini mengkonfirmasi temuan klinis sebelumnya yang menunjukan bahwa orang-orang yang rentan pada stres lebih mungkin terkena penyakit Alzheimer sporadis.

Selama percobaan yang dilakukan pada tikus, episode berulang seperti stres pada manusia dihasilkan pada fosforilasi dan mengubah kelarutan dari protein tau saraf. Proses ini paling jelas di hipocampus yang merupakan tempat memori dan juga daerah yang pertama dan paling parah terkena selama berlangsungnya patologi Alzheimer.

MEDINDIA | AMIRULLAH



View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 17 April 2012

Stres Penyebab Utama Flu

Senin, 09 April 2012 | 11:50 WIB

TEMPO.CO - Stres diketahui dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, terutama pada saaat seseorang bekerja terlalu keras atau mengalami kelelahan secara emosional. Salah satu akibat sistem pertahanan tubuh yang lemah adalah tubuh akan mudah terserang flu. Tidak hanya itu, tubuh juga akan mudah terserang beberapa penyakit, seperti eksim dan sakit kepala.

Sebuah studi penelitian baru menyebutkan terdapat proses identifikasi biologis yang dapat menjelaskan hubungan stres kehidupan--seperti masalah uang atau perceraian--yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat virus, misalnya flu.

"Stres menyebabkan sel seseorang menjadi kurang sensitif terhadap hormon kortisol," kata kepala peneliti Sheldon Cohen, Ph.D., profesor psikologi di Carnegie Mellon University, Pittsburgh. "Mereka tidak dapat mengatur respon tubuh. Oleh karena itu, ketika mereka terkena virus, mereka lebih mudah terinfeksi flu."

Sebagian besar penelitian difokuskan pada kortisol atau hormon pemicu stres. Hormon  ini dilepaskan oleh kelenjar adrenal ketika seseorang merasa terancam atau cemas. Salah satu cara kerja kortisol adalah meredam sementara sistem kekebalan tubuh dan secara khusus melakukan respon inflamasi guna melepaskan energi saat menghadapi ancaman.

Cohen dan koleganya menguji teori mereka dalam sebuah eksperimen yang dipublikasikan dalam Prosiding National Academy of Sciences. Tim ini mewawancarai 276 pria dan wanita sehat mengenai sumber stres psikologis dalam hidup mereka, termasuk situasi kerja yang tidak bahagia, konflik jangka panjang dengan keluarga atau teman, atau masalah hukum dan keuangan, serta masalah lain yang menyebabkan mereka sakit.

Dalam penelitian Cohen disebutkan, faktor kunci yang mempengaruhi rentannya tubuh seseorang terhadap penyakit tergantung dari sensitivitas sistem kekebalan tubuh. Penelitian ini menunjukkan bahwa stress dapat melemahkan respons tubuh terhadap hormon kortisol sehingga peradangan yang menyebabkan gejala flu dapat menyebar secara cepat.

Fakta menyebutkan kortisol dipercaya dapat menekan peradangan. Namun, menurut penelitian, hal ini masih menyajikan teka-teki. Sebab orang yang secara kronis mengalami stres cenderung memiliki kortisol lebih tinggi. Sementara bersin, terisak, dan batuk saat seseorang stress merupakan respon tubuh terhadap serangan virus.

NEWS.HEALTH.COM - CHETA NILAWATY



View the original article here



Peliculas Online