Senin, 21 Mei 2012

Tiga Cara Agar Fitness Makin Terasa

Kamis, 05 April 2012 | 09:55 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Postur tubuh orang berbeda-beda. Karena itu, hanya melakukan satu jenis latihan fitness merupakan sebuah kesalahan. Yang benar, saat berlatih fitness, semua bagian tubuh harus dilatih, meskipun dengan porsi beban yang berbeda. Berikut ini tiga prinsip yang patut dipegang sebelum memilih jenis latihan fitness.

1. Selalu berpikir positif, apapun bentuk tubuh Anda.
Dengan berpikir positif, Anda dapat menerima bentuk tubuh apa pun yang diberikan Tuhan kepada diri Anda. Pikiran semacam ini tak akan membuat Anda berlebihan dalam berolah tubuh.

2. Jadilah pemimpin bagi tubuh Anda sendiri.
Dulu ada ungkapan "dokter terbaik bagi diri kita adalah tubuh kita sendiri". Artinya, Anda harus mengetahui keadaan tubuh Anda sendiri, termasuk postur tubuh, seberapa besar beban yang dapat diterima tubuh dan seberapa jauh jangkauan yang dapat tubuh Anda capai.

3. Pilihlah jenis latihan fitness yang aman dan nyaman.
Jangan memaksakan diri untuk melakukan satu latihan dengan beban di luar kemampuan atau gerakan di luar jangkauan Anda. Alih-alih mendapatkan postur ideal, tubuh Anda malah cedera. Untuk membimbing Anda memilih jenis latihan yang aman dan nyaman, kehadiran pelatih pribadi atau konsultan fisik layak dipertimbangkan.

CHETA NILAWATY | BERBAGAI SUMBER



View the original article here



Peliculas Online

Minggu, 13 Mei 2012

Stres Kronis Sebabkan Alzheimer

Selasa, 10 April 2012 | 16:04 WIB

TEMPO.CO - Kepandaian mengelola stres amat dibutuhkan untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Bila tidak, stres akan berubah menjadi kronis dan menyebabkan penyakit Alzheimer.

Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan dari San Diego of School of Medicine tentang stres menunjukan bahwa stres kronis menyebabkan produksi dan akumulasi protein tau pada sel-sel otak tikus. Protein tau adalah protein yang banyak terdapat di neuron atau di dalam sistem saraf pusat. 

Kumpulan protein tau pada sel-sel otak tikus yang diobservasi selama penelitian sama dengan protein tau yang juga ditemukan pada penyakit Alzheimer pada manusia. Hasil penelitian ini dipublikasikan secara online pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Stres adalah respons alami terhadap situasi sulit yang dirasakan seseorang. Stres juga dikaitkan dengan kondisi psikiatrik, seperti kecemasan dan depresi. Pada kasus-kasus tertentu, tidak semua jenis stres membahayakan. "Stres akut yang bisa terjadi kapan saja terbukti bermanfaat membantu meningkatkan plastisitas otak dan mengembangkan proses belajar.

Stres kronik membahayakan. Ini karena stres kronis membawa perubahan patologis dalam tubuh yang diketahui memiliki sejumlah implikasi kesehatan. Temuan-temuan dari penelitian terkini mengkonfirmasi temuan klinis sebelumnya yang menunjukan bahwa orang-orang yang rentan pada stres lebih mungkin terkena penyakit Alzheimer sporadis.

Selama percobaan yang dilakukan pada tikus, episode berulang seperti stres pada manusia dihasilkan pada fosforilasi dan mengubah kelarutan dari protein tau saraf. Proses ini paling jelas di hipocampus yang merupakan tempat memori dan juga daerah yang pertama dan paling parah terkena selama berlangsungnya patologi Alzheimer.

MEDINDIA | AMIRULLAH



View the original article here



Peliculas Online

Sabtu, 12 Mei 2012

Wanita Hamil Saat Diet Cenderung Punya Anak Gemuk

Sabtu, 07 April 2012 | 11:28 WIB

TEMPO.CO, Jakarta- Para wanita yang hamil ketika sedang melakukan diet lebih cenderung memiliki anak yang kegemukan (obesitas) atau terkena diabetes di kemudian hari. Demikian sebuah studi mengungkapkan.

Para peneliti menemukan dalam sebuah studi yang dilakukan pada domba dengan memberikan lebih sedikit makanan saat hamil ternyata menyebabkan perubahan DNA di otak saat mereka muda.

Ilmuwan dari University of Manchester menduga temuan ini hasilnya juga akan sama pada manusia dan bisa menjelaskan mengapa anak kembar lebih cenderung mengalami diabetes tipe 2 saat mereka dewasa. Para ilmuwan kemudian meneliti jaringan otak dari kambing yang belum lahir untuk melihat apakah terjadi perubahan struktur DNA.

“Kami menemukan bahwa kambing kembar yang belum lahir mengalami perubahan struktur DNA di wilayah otak yang mengatur asupan makanan dan glukosa yang berdampak pada peningkatan peluang terjadinya diabetes saat dewasa,” kata Ketua peneliti, Anne White, seperti dikutip situs Daily Mail edisi 3 April 2012. Hasil penelitian ini dipublikasikan di Journal of the Federation of American Societies for Experimental Biology.

“Temuan kami mengungkapkan sebuah alasan mengapa kembar lebih cenderung terkena diabetes. Tapi kami juga melihat para ibu yang tidak cukup makan saat mereka sedang hamil kemungkinan mempunyai anak yang tumbuh dengan kecenderungan peningkatan risiko obesitas,” ucap White.

Para peneliti yakin bahwa temuan mereka relevan dengan manusia karena mereka menunjukkan cara non-genetis atau epigenetik, yakni DNA anak-anak bisa berubah. “Temuan ini mengungkapkan sebuah pemahamam baru mengapa kembar bisa mengalami diabetes dan juga menunjukkan bahwa diet saat hamil kemungkinan meningkatkan peluang anak menjadi kegemukan di kemudian hari,” kata White.

ARBA’IYAH SATRIANI



View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 08 Mei 2012

Langsing Tak Bikin Percaya Diri

foto

Ilustrasi. easydietprograms.info

Sabtu, 07 April 2012 | 10:14 WIB

TEMPO.CO, Jakarta- Mengalami penurunan berat badan tidak serta merta meningkatkan rasa percaya diri pada remaja putri yang mengalami obesitas. Demikian sebuah studi terbaru mengungkapkan.

“Kami menemukan bahwa remaja putri yang kelebihan berat badan, lalu mengalami penurunan berat badan, tetap melihat dirinya gemuk, meski terjadi perubahan dalam massa tubuh relatif,” kata peneliti Sarah Mustillo, associate professor sosiologi di Purdue University di West Lafayette Indiana. Penelitian ini muncul di Journal of Health and Social Behavior seperti dikutip Health Today terbaru.

Para remaja putri berkulit putih yang mengalami obesitas, kata Mustillo, “Memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman sebaya mereka yang berat tubuhnya normal. Kepercayaan diri mereka tidak berubah meski mereka sudah tidak gemuk lagi.”

Mustillo dan rekan-rekan menganalisis data dari sebuah studi nasional terhadap lebih dari 2 ribu remaja putri berkulit putih dan hitam di Amerika Serikat yang datanya diikui selama 10 tahun, sejak mereka berusia sembilan dan 10 tahun.

Menurut hasil penelitian tersebut rasa percaya diri remaja putri berkulit hitam yang semula kegemukan dan berubah normal berat badannya memang meningkat, meski remaja-remaja ini memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah di awal. Hasil temuan tim Purdue mengungkapkan baik remaja putri berkulit putih maupun hitam yang sama-sama kehilangan berat badannya sama-sama tetap memiliki persepsi negatif tentang tubuh mereka.

Para ilmuwan mengingatkan penelitian ini tidak membuktikan bahwa rasa percaya diri remaja putri tetap rendah karena mereka terus melihat dirinya sebagai orang yang kelebihan berat badan, kata Mustillo. Kemungkinan ada penjelasan lain untuk para remaja yang terus berpikir tentang rendahnya rasa percaya diri mereka di masa muda.

“Meski demikian, memberikan bantuan kesehatan mental selama proses penurunan berat badan bisa bermanfaat,” kata Mustillo seperti dikutip situs Health Day edisi 3 April 2012.

“Memahami dan mengatasi citra tubuh, masalah kepercayaan diri, dan identitas pada akhirnya bisa membantu menurunkan berat badan. Mengapa tetap diet dan berolahraga jika Anda masih melihat diri Anda sendiri gemuk?” ucap Mustillo.

ARBA’IYAH SATRIANI



View the original article here



Peliculas Online

Jumat, 04 Mei 2012

Perempuan Obesitas Lebih Rentan Alami Pembekuan Darah

Senin, 09 April 2012 | 13:12 WIB

TEMPO.CO, New York - Perempuan usia baya dengan kelebihan berat badan memiliki risiko tinggi mengalami pembekuan darah, khususnya yang baru saja menjalani operasi. Penelitian yang diikuti lebih dari satu juta perempuan di Inggris menyebutkan ada hubungan antara obesitas dan risiko Venous Thromboembolism (VTE) atau yang dikenal dengan pembekuan darah di dalam pembuluh vena.

Jika pembekuan darah itu pecah dan masuk ke paru-paru maka akan menyebabkan kondisi yang disebut Emboli Paru atau penyumbatan arteri utama dari paru-paru atau salah satu cabang, dengan zat yang berasal dari tempat lain dalam tubuh. Jika kondisi ini terjadi, dapat berakibat fatal dan harus menjalani operasi.

"Tapi, sejauh yang kita tahu, penelitian kami adalah yang pertama untuk langsung menguji hubungan antara kelebihan berat badan atau obesitas dan kemungkinan memiliki operasi," kata pemimpin penelitian, Lianne Parkin, dari University of Otago di Selandia Baru.

Para peneliti menemukan bahwa dari 1.000 perempuan dengan berat badan normal yang menjalani operasi rawat inap selama enam tahun, sekitar lima orang harus menjalani operasi karena mengalami pembekuan dalam vena atau emboli paru dalam waktu 12 minggu dari operasi.

Sementara pada perempuan yang mengalami berat badan atau obesitas, jumlah yang menjalani operasi dalam emboli paru lebih banyak, yaitu tujuh orang. Secara keseluruhan, Parkin mengatakan risiko pembekuan naik secara bersamaan dengan berat badan perempuan.

"Itu menunjukkan bahwa hilangnya sejumlah kecil berat badan akan berpengaruh baik dalam hal mengurangi risiko VTE, terutama bagi perempuan yang kelebihan berat badan atau obesitas," kata Parkin.

Pembekuan darah hampir selalu didiagnosis karena gejala, seperti nyeri di betis, bengkak pada pergelangan kaki, serta merasa panas pada satu area yang terinfeksi. Menurut Parkin, pengobatan yang dapat dilakukan dengan memberikan antibeku untuk mencegah pembekuan yang telah ada maupun yang baru.

Mengenakan stocking kompresi di sekitar kaki bagian bawah juga dapat membantu mencegah pembekuan baru. Menurut Parkin, cara terbaik bagi seorang perempuan obese dalam mengurangi risiko VTE adalah menurunkan berat badan. "Banyak manfaat kesehatan lainnya yang penting dengan mengurangi berat badan," ujar Parkin.

REUTERS | CHETA NILAWATY



View the original article here



Peliculas Online

Senin, 30 April 2012

Sayuran Perpanjang Usia Penderita Kanker

Kamis, 05 April 2012 | 13:46 WIB

TEMPO.CO, Chicago - Sebuah studi oleh Vanderbilt-Ingram Cancer Center dan Center for Disease Control and Prevention, Shanghai, membuktikan manfaat lain sayuran. Berdasarkan penelitian mereka, penderita kanker payudara yang makan lebih banyak sayuran akan memiliki kelangsungan hidup lebih baik ketimbang mereka yang tak rutin mengonsumsi sayuran.

Hal ini disampaikan Sarah J. Nechuta, Ph.D., MPH, pada pertemuan tahunan The American Association for Cancer Researchdi Chicago, Illinois.

"Penderita kanker payudara dapat mengikuti pedoman umum gizi setiap hari dengan meningkatkan asupan sayuran, seperti dedaunan, kubis, kembang kol, dan brokoli sebagai bagian dari diet yang sehat," kata Nechuta.

Nechuta, Xiao Ou Shu, dan koleganya meneliti peran sayuran dalam kelangsungan hidup penderita kanker payudara yang telah dinyatakan sembuh. Mereka melakukan sebuah studi prospektif terhadap 4.886 penderita kanker payudara di Cina yang didiagnosis dengan stadium 1 hingga 4 dari 2002 sampai 2006.

Setelah disesuaikan dengan demografi, karakteristik klinis, dan faktor gaya hidup, para peneliti mengamati asupan sayuran selama 36 bulan pertama setelah diagnosis kanker payudara dan kaitannya dengan penurunan risiko untuk kematian total, spesifik mortalitas kanker payudara, dan kekambuhan penyakit.

Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup penderita kanker yang sembuh dipengaruhi oleh konsumsi sayuran. Perempuan yang makan lebih banyak sayuran, risiko kematian atau kambuhnya kanker menurun.

Wanita yang berada dalam tingkat tertinggi asupan sayuran per hari memiliki 62 persen penurunan risiko kematian total, 62 persen mengurangi risiko kematian kanker payudara, dan 35 persen mengurangi risiko kekambuhan kanker payudara dibandingkan dengan wanita dengan persentase asupan sayurannya pada tingkat terendah.

Nechuta mencatat sayuran yang dimaksud dalam penelitiannya adalah yang biasa dikonsumsi warga Cina. "Umumnya sayuran yang dikonsumsi di Cina adalah lobak, kubis, atau pok coy. Di sisi lain, brokoli dan kol adalah sayuran lebih sering dikonsumsi di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya," katanya.

Sayuran mengandung fitokimia yang dikenal sebagai isothiocyanate dan indoles yang memiliki efek perlindungan terhadap beberapa jenis kanker. Nechuta mengatakan tingkat senyawa bioaktif dalam sayuran berperan dalam efek antikanker. Namun, semua tergantung pada jumlah dan jenis sayuran yang dikonsumsi.

TRIP B | SCIENCE DAILY



View the original article here



Peliculas Online

Minggu, 29 April 2012

5 Aroma Pembangkit Energi

Selasa, 10 April 2012 | 03:01 WIB

TEMPO.CO , Jakarta:- Wewangian tidak hanya berfungsi sebagai pengharum ruangan ataupun tubuh. Ternyata mereka memiliki manfaat lainnya yakni sebagai motivator juga memperbaiki suasana hati dan perasaan Anda.

Ingin selalu tubuh dan pikiran Anda penuh dengan energi? Dikutip dari laman Fit Sugar, cobalah beberapa wewangian ini.
1. Jeruk
Tidak hanya baik bagi tubuh saat dimakan, jeruk juga bermanfaat sebagai aromaterapi. Aroma jeruk mampu meningkatkan semangat dan membuat orang merasa lebih bahagia. Aroma minyak esensial jeruk juga bermanfaat sebagai obat antidepresi dan memberikan efek penenang.
2. Melati
Aroma melati merupakan penyembuhan terbaik untuk penyakit insomnia dan depresi. Selain itu baik dalam bentuk rauan teh atau minyak aromatik, melati mampu meningkatkan kewaspadaan mental dan merangsang otak.
3. Jeruk nipis
Jeruk nipis mengeluarkan aroma yang kuat untuk memberikan energi dan semangat. Wewangian jeruk nipis yang segar bisa menjadi aromaterapi untuk membantu efek pikiran yang kelelahan dan gelisah. Aroma ini mampu mengembalikan kesegaran mental dengan meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi.
4. Peppermint
Peppermint memiliki aroma yang kuat, segar dan sejuk. Karena baunya yang menyegarkan, aroma mentol bisa membantu Anda untuk bernafas lebih mudah sepanjang harinya.
5. Jeruk bali
Sama dengan jeruk dan jeruk nipis, jeruk bali pun mampu memberikan efek segar dan berenergi. Selain bermanfaat untuk peremajaan kulit, buah ini juga bisa meringankan rasa lelah dan lesu.

NUR INTAN



View the original article here



Peliculas Online